Teori Konflik Johan Galtung
- Pengertian Konflik
Konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Dimana konflik dapat mengakibatkan kerusakan atau kehancuran dan juga keseimbangan sosial. Konflik sendiri didefinisikan sebagai cara sosial yang secara langsung dalam keadaan saling bertentangan dengan adanya ancaman. Artinya, konflik merupakan gejala yang selalu hadir (Santoso 2019). Konflik dalam pengertian lain diartikan sebagai hubungan yang ada pada dua belah pihak ataupun lebih. Memiliki dan juga merasa memiliki, tujuan-tujuan yang tidak sejalan (Gamayanti and Nulhaqim 2019).
Dalam ilmu sosial, konflik dipandang positif ketika diarahkan untuk kebaikan. Sebab adanya konflik yang terjadi dapat memberikan pemahaman terhadap peristiwa yang terjadi. Seperti dalam istilah "api dalam sekam" yang dimaksudkan bahwa terjadinya konflik dalam masyarakat dapat mampu mengetahui bahwa terdapat sekelompok orang yang terpinggirkan yang memiliki keinginan, yang mana keinginan tersebut tidak tersalurkan dengan baik sampai menimbulkan konflik yang menyebabkan pada kekerasan (Tongkow, Fonny, and Jauke 2021). Sedangkan konflik menurut pandangan para ahli:
- Menurut Soerjono Soekanto
Konflik merupakan sebuah proses dari masing-masing individu ataupun golongan yang mengancam atau bertindak kekerasan untuk menentang lawannya.
- Menurut Ranupandoyo & Hasnan
Konflik merupakan adanya ketidaksamaan antara dua belah pihak dalam organisasi yang disebabkan karena mereka menggunakan sumber daya yang langka secara bersama, melaksanakan aktivitas bersama, atau memiliki tujuan, nilai, status dan pandangan yang berbeda.
- Menurut Robbin
Pandangan konflik menurut Robbin (1996: 431) ialah dalam organsasi konflik dikatakan sebagai The Conflict Paradoks, yang dimaksud anggapan bahwa konflik dipandang bisa meningkatkan kualitas kerja kelompok, akan tetapi di lain itu kebanyakan kelompok atau organisasi berupaya untuk menghindarkan suatu konflik.
- Menurut Reksohadiprojo
Konflik adalah segala macam hubungan interaksi pertentangan dua belah pihak atau lebih.
- Konflik menurut peneliti lainnya:
Adanya konflik terjadi karena interaksi yang dikatakan sebagai komunikasi. Hal tersebut dapat dipahami bahwa untuk mengetahui sebuah konflik diharuskan dapat mengetahui kemampuan dan cara komunikasi. Konflik dari semuanya mengandung komunikasi, akan tetapi tidak semua konflik berawal dari komunikasi yang buruk (Fajriyah 2022).
2. Latar Belakang Pemikiran Johan Galtung
Tokoh yang bernama Johan Galtung adalah seorang pemikir dan akademisi yang memiliki pengaruh terhadap perdamaian yang terdorong dari salah satu tokoh besar perdamaian dunia ialah Mahatma Ghandi. Karya Johan Galtung yang berjudul "Perdamaian dan Kekerasan" seringkali dijadikan sebagai bahan referensi para intelektual, pembuat kebijakan hingga politisi di berbagai negara. Hal tersebut, menghasilkan pemikiran Johan Galtung yang sangat penting dalam keilmuan dibelahan dunia. Teori dari pemikiran Johan Galtung yang terkenal ialah teori konflik segitiga ABC.
Johan Galtung dalam menafsirkan konflik, membagi tiga bagian utama yaitu ABC, artinya A merupakan (attitude/sikap), kemudian B (behavior/perilaku) dan C diartikan (contradiction /pertentangan) (Azisi 2021). Dalam hal tersebut, dasar dari bagian utama Johan Galtung merupakan suatu konflik yang terjadi dalam realitas kehidupan, hingga dinamika segitiga ABC. Tiga bagian dalam konflik terlebih dahulu berawal dari adanya kotradiksi, urutannya seperti berikut:
cotradiction-attitude-behavior
Teori segitiga dalam pemikiran yang dilahirkan oleh Johan Galtung, bermaksud untuk diterapkan ketika terjadi konflik dengan mencari tahu sumber konflik yang terjadi dan memahami dampak dari konflik yang terjadi, hingga sampai memperoleh penyelesaian secara menyeluruh. Konflik yang terjadi tidak hanya terdapat ketidakcocokan para pihak yang saling bertentangan di dalamnya, gaya segitiga ABC Johan Galtung tersebut dapat digunakan ketika menyelesaikan masalah yang lainnya seperti diskriminasi, pelanggaran HAM, konflik di lingkungan sekolah ataupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Secara umum, penanganan dalam menyelesaikan konflik bisa dilakukan dengan bentuk kekerasan maupun yang dibilanag merusak. Namun, kebanyakan masyarakat seringkali memandang konflik serupa dengan perilaku kekerasan. Maka dengan demikian, Johan Galtung melahirkan teori tersebut yang dapat memberikan pengetahuan dan penejelasan bagaimana sumber konflik itu terjadi (Azisi 2021).

Komentar
Posting Komentar