Teologi Perdamaian GUS DUR



Pendahuluan


    Dilihat dari sudut pandang geologis, historis, dan budaya Indonesia merupakan salah satu Negara terbesar di dunia. Salah satu ciri khas Negara Indonesia adalah perbedaan ras, suku, bahasa, agama dan budaya. Hal yang demikian bangsa Indonesia adalah sikap saling menghormati satu sama lain. Oleh karena itu, Indonesia memiliki semboyan yang sangat dikenal oleh semua orang yaitu "Bhineka Tunggal Ika" yang mengartikan berbeda-beda tetapi tetap satu. Nilai idealisme yang terbangun dari semboyan ini, menciptakan perdamaian di atas keberagamaan, kerukunan di atas keberbagian dan interaksi dialogis di atas perbedaan.

    Gus Dur adalah tokoh pluralism yang cukup subur dalam meluncurkan ide-ide progresifnya dan semua tokoh nasional ataupun internasional setuju dengan pernyataannya. Di dalam membangun kehidupan lintas agama, maka Gus Dur berperan sangat menonjol dimana usaha Gus Dur yang menjadikan Kong Hu Cu sebagai agama resmi di Indonesia sehingga memiliki status dan kedudukan sama dengan agama lain yang yang diakui di negeri ini. Gus Dur mengajarkan manusia bahwa agama dan kemanusiaan adalah dua hal yang menyatu di dalam diri manusia. Tidak boleh ada yang saling mengalahkan, keduanya adalah sesuatu yang sistemik dan holistic. Karena beragama yang benar didasari oleh keyakinan agama yang benar. 

    Makna perdamaian adalah penghentian permusuhan dan perselisihan. Sederhananya, perdamaian di definisikan sebagai ketiadaan perang. Hal ini berlaku bagi keseluruhan hubungan antara seorang dengan orang lainnya, seseorang dengan masyarakat, masyarakat dengan masyarakat, bangsa dengan bangsa dan keseluruhan antara umat manusia satu sama lainnya.

    Pemikiran tentang perdamaian di Negara kita ini bisa didapatkan, jika sudah bisa melepas sekat-sekat identitas yang ada dalam diri kita, baik sekat agama, suku, ras, bangsa dan lainnya. Gus Dur berhasil melepas semua sekat identitas tersebut. Ia memang manusia tanpa sekat. Bagi Gus Dur, semua manusia adalah sama tak perduli dari mana asal usulnya. Dengan pemikiran inilah, Gus Dur banyak mengabdikan hidupnya untuk manusia dan kemanusiaan. Gus Dur pernah lelah untuk memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Fenomenal Gus Dur selalu menawarkan tentang ide yang kontroversial bagi nalar logika umum dan unik karena dalam dirinya ada beberapa atribut baik sebagai intelektual ahli ilmu sosial, LSM, budayawan, dan seorang Kyai dan khas Gus Dur adalah tokoh yang sangat gigih dalam membela kepentingan minoritas serta mengkritik mayoritas agar tidak bersikap sewenang-wenang karena merasa kuat.


Pembahasan


    K.H Abdurahman Wahid adalah seorang tokoh Indonesia yang selama hidupnya selalu memperjuangkan perdamaian, selain itu K.H Abdurrahman Wahid atau yang sering dikenal dengan sebutan Gus Dur mrupakan seorang ulama, bahkan menjadi presiden Republik Indonesia yang keempat.

    Perdamaian yaitu penghentian permusuhan, perselisihan, perihal berdamai. Sederhananya dari damai adalah ketiadaan perang. Perdamaian dalam arti yang luas adalah "penyesuaian dan pengarahan yang baik dari orang terhadap terciptanya pada satu pihak dan kepada sesamanya pada pihak yang lain". Ini berlaku bagi keseluruhan hubungan konsentris (bertitik pusat yang sama) antara seorang dengan orang lainnya, masyarakatnya, bangsanya, dan keseluruhan umat manusia. Menurut Johan Galtung yang dikutip oleh Ahmad Nurcholish, perdamaian dapat didefinisikan menjadi dua, yaitu perdamaian negatif dan perdamaian positif. Perdamaian negatif diartikan sebagai ketiadaan kekerasan permusuhan, dan konflik. Perdamaian positif diartikan sebagai terbentuknya suasana yang harmonis. 

    Agama yang sejuk dan mampu mengayomi sistem sosial yang akan mewujudkan masyarakat menuju perdamaian tanoa kekerasan atau peperangan. Salah satu pandangan Gus Dur, agama tidak membatasi umatnya untuk sumber spiritual antar umat beragama. Pentingnya dialog antar pemeluk agama untuk menghindari prasangka-prasangka buruk dan sinisme.

    Kata perdamaian menurut Gus Dur dalam ranah pergaulan antar bangsa berarti tidak adanya peperanagan atau adanya kekerasan oleh suatu pihak yang lain, dengan persyaratan dan pengertian dari pihak yang menang. Islam juga menolak kekerasan semuanya saja oleh siapapun, dan kekerasan hanya dapat dilakukan oleh kaum muslimin, jika mereka diusir dari rumah-rumah kediaman mereka. Teologi Pembebasan Gus Dur yaitu : wacana modernitas agama bukanlah beban dan ketinggalan sosial, tetapi agama tampil sebagai agen perubahan dan pembebasan. Agama menjadi usaha transformatif-progresif membela kaum tertindas dan islam inklusif sebagai pembebasan visioner dan radikal. Dalam landasan teologis, peran islam dapat menciptakan tatanan sosial yang menyimbangkan kepentingan individu dan sosial dengan mengejawantah nilai-nilai universal Islam dengan semangat pembebasannya.

    Gus Dur, Negara dan kebijakan non- diskriminasi; studi terhadap kebijakan etnis Tionghoa di Indonesia yaitu sebagai etnis minoritas Tionghoa memiliki pengakuan hak sebagai warga Negara Indonesia. Gus Dur mengeluarkan kebijakan inpres no.6/2000 tentang pencabutan inpres no.14/1966 tentang agama, kepercayaan dan adat istiadat. Pemikiran Gus Dur terhadap nasionalisme dan multikulturalisme (1963-2001) yaitu Gus Dur merubah tatanan kehidupan sosial dan adanya toleransi yang nyata diantara masyarakat terutama bagi kalangan minoritas. Dengan begitu Gus Dur menekankan sikap nasionalis dan bersifat merangkul perbedaan kultur perbedaan budaya itu Gus Dur sangat toleran dan menghargai atas dasar manusia dan nilai keagamaan yang damai.


Kesimpulan


Konsep perdamaian Gus Dur yaitu sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan yaitu dengan menerima keberadaan orang atau penganut agama lain yang berbeda, diiringi dengan sikap menghargai sesama manusia, wujud dari toleransi adalah sikap menghargai pluralitas, menghargai pendapat, sikap keterbukaan terhadap perbedaan, membantu dan membela serta menghargai orang-orang yang tertindas atau mendapat perlakuan yang tidak adil, serta menjunjung tinggi persaudaraan sesama manusia. Konsep perdamaian penghormatan terhadap perbedaan karena perbedaan adalah hal yang wajar sehingga tidak perlu menimbulkan konflik dan tindakan kekerasan. 



Referensi:

Listiyono Santoso. 2004. Menjadi Gus Dur , Teologi Politik Gus Dur. Jogjakarta: Ar Ruzz

Fakultas Ilmu Komputer. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. Jakarta: Universitas Indonesia

Wahyudi. 2018. Teologi Pembebasan Abdurrahman Wahid. Yogyakarta: dalam skripsi. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ana Riwayati Dewi. 2017. Pemikiran Gus Dur Tentang Nasionalisme dan Multikuluturalisme 1963-2001I. Yogyakarta: dalam skripsi UIN Sanata Dharma Yogyakarta.

Iyun Jumanah Nashir. 2012. K.H Abdurrahman Wahid, Negara dan Kebijakan Non-Diskriminasi; Studi Terhadap Kebijakan Etnias Tionghoa di Indonesia. Cirebon: dalam skripsi, IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Handayani, A. 2017. Pemikiran Gus Dur. Lampung: UIN Raden Intan Lampung.

Apriyanto. 2020. Teologi Perdamaian Perspektif Abdurrahman Wahid. Purwokerto: IAIN Purwokerto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memandang Konflik dalam Konsep Segitiga Johan Galtung

Perempuan Hari Ini: Kartini Versi Gen Z

Perempuan dan Value: Menemukan, Menjaga, dan Merayakan Nilai Diri