Kelas Online: Kepemimpinan Feminim Jurus Jitu Win-Win Berorganisasi

              Sumber gambar : dokumen pribadi 


Dasar utama dalam melaksanakan organisasi ataupun lembaga diperlukannya seorang pemimpin untuk mengelola sebuah tim. Karena dalam suatu kelompok pasti tidak terlepas dari seorang pemimpin, terlihat harus adanya seorang pemimpin dalam sebuah kelompok harus memiliki kemampuan efektivitas dalam melaksanakan tugas dengan tujuan yang dituju. Pemimpin dalam kelompok sangat berperan penting untuk saling memberikan support, menjadikan kelompok yang dipimpinnya bermutu, dan dapat mencapai sasaran yang telah ditargetkan.

Di era sekarang, didapati masih ada sebagian masyarakat memandang bahwa menjadi seorang pemimpin hanya dilakukan oleh kaum laki-laki.Streotipe masyarakat memandang perempuan hanya memiliki peran domestik yang berada di dalam rumah seperti halnya menjadi ibu rumah tangga, mengurus rumah, mendidik anak-anaknya, dan melayani suami. Sedangkan tugas di luar rumah diperuntukkan untuk kalangan laki-laki (suami). Dengan demikian, hal tersebut menjadikan ketidakadilan gender.

Dalam kepemimpinan atau memimpin sebuah tim baik dari organisasi ataupun perusahaan tidaklah melihat dengan menggunakan kaca mata gender. Artinya, dalam kepemimpinan merupakan no diskriminatif. Seringkali kita memandang atau masih menggunakan streotipe bahwa pemimpin hanyalah bisa dilakukan oleh kaum laki-laki, karena laki-laki memiliki sifat maskulinitas seperti tegas, langsung dalam mengambil sebuah tindakan, menentukan target.

Akan tetapi, dalam kepemimpinan di masa sekarang tidak cukup diperlukannya sifat-sifat tersebut. Dalam memimpi sebuah tim di era sekarang perlunya sifat-sifat feminim yang dapat merawat tim, mendengarkan tim, bahkan tumbuh bersama dengan tim. Bahwa kepemimpinan dalam sebuah tim tidak hanya menyematkan sifat maskulinitas, dimana cenderung hanya memerintah dengan target yang ditentukan secara sepihak tanpa memikirkan tim atau anggotanya. Sedangkan jika dalam kepemimpinan menggunakan sifat feminim, dimana ketika menjadi leader selalu mengajak diskusi para anggotanya untuk mencapai target, bagaimana dan apakah kita sanggup mencapai target. Sederhananya, saling mendiskusikan dengan anggota tim. 

Terdapat dua poin terpenting untuk menjadi pemimpin di era sekarang pertama yaitu adanya komunikasi yang baik dengan para anggotanya. Komunikasi yang baik bukan dilihat cara berbicaranya, akan tetapi dapat saling mendengarkan, saling mengutarakan sesuatu tanpa ada unsur menyakiti. Dan poin kedua memiliki kemampuan untuk berdiskusi dan mendengar agar semua tim saling tahu. 

Di era sekarang sebuah kepemimpinan baik dalam organisasi, perusahaan bahkan lembaga tinggi dalam negara terdapat aturan adanya perwakilan berapa persen dari kalangan perempuan. Padahal kualifikasi menjadi seorang pemimpin bukan hanya perwakilan dari beberapa oran. Akan tetapi, seseorang itu memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan mengelola sebuah tim dengan bersama-sama. 

Menjadi seorang pemimpin harus memiliki kesiapan diri, kemampuan dalam mengelola sebuah tim yang mana tim tersebut terlihat berkualitas. Memiliki personality yang baik, apa nilai-nilai dalam diri yang dimiliki untuk menjadi seorangpemimpin. Hal tersebut yang harus diutamakan untuk memilih dan menjadi seorang pemimpin, buka hanya dilihat dari 'gender'. Untuk mengetahui bagaimana menggali kepemimpinan dalam diri tentunya dimulai dari menjadi follower atau anggota yang baik, karena ketika sudah berhasil menjadi anggota yang baik suatu hari akan menjadi leader yang baik. 


Referensi:
Meisa, Eggi Alvado Da, Prawinda Putri Anzari. "Perspektif feminisme dalam kepemimpinan perempuan di Indonesia". Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-ilmu Sosial. Vol. 1, No.6. 2021.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memandang Konflik dalam Konsep Segitiga Johan Galtung

Perempuan Hari Ini: Kartini Versi Gen Z

Perempuan dan Value: Menemukan, Menjaga, dan Merayakan Nilai Diri