Mengenal Lebih Dekat Narsistik Personality Disorder: Tanda, Penyebab dan Penanganannya!

Dalam masa remaja, tentunya akan mengalami masa transisi dari anak-anak beranjak dewasa. Dimana perubahan tersebut biasanya di tandai dengan peralihan fisik atau psikis dari masing-masing personal. Setiap masing-masing individu yang mengalami masa transisi pada fisik dapat berpengaruh terhadap kepercayaan diri. Tidak hanya itu, salah satu dari masalah yang dihadapi para remaja biasanya terdapat dari lingkungan sekitar. Hal itu merupakan faktor yang dapat menimbulkan masalah yang dihadapi setiap remaja, faktor tersebut salah satunya ialah sebuah penghargaan dan penerimaan diri dari teman seusianya. Penghargaan diri masing-masing personal dapat terpengaruh dari adanya perasaan tidak dihargai atau tidak diterima oleh teman seusianya. Dua faktor ini antara penghargaan diri dan kepercayaan diri yang kurang sangat berpengaruh dan dapat mengakibatkan gangguan dengan adanya tindakan narsistik atau disebut dengan narcictic personality disorder.

Narcictic Personality Disorder dapat dipahami sebagai gangguan kepribadian, dimana seseorang yang sering berangan-angan atau berkhayal akan keistimewaan dirinya, sangat menginginkan validasi dirinya dari orang lain, kurangnya sikap kepekaan terhadap orang lain, dan tidak perduli dengan pendapat orang lain. Sederhananya, narsistik merupakan seseorang yang mengalami gangguan kepribadian yang haus akan pujian dan suka mencari perhatian kepada orang lain dari keistimewaan dirinya dan juga keberhasilan yang telah dicapai. 

Penyebab dari adanya perilaku narsistik tersebut, karena terdapat kesenjangan dari masa yang tidak ideal dalam periode transisi masa anak-anak yang kemudian beranjak ke masa dewasa. Secara psikoanalisis, seseorang yang mengalami kepribadian narsistik dapat menjadi karakteristik yang mudah ditelusuri. Sedangkan dalam patologis, kepribadian tersebut dapat merusak fungsi sosial individu. Maka dari itu, kepribadian narasistik dianggap merupakan gangguan kepribadian narsistik. 

Seseorang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik dalam penelitiannya Campbell & Foster (2017) cenderung dalam hidup yang tidak apa adanya dan memiliki keterikatan untuk bersikeras terhadap citra diri yang positif. Bahkan dengan adanya media sosial sekang ini dapat memperburuk kepribadian narsistik dalam diri seseorang. Dikatakan oleh Twenge dan Campbell bahwa kepribadian narsistik merupakan "epidemi" yang dapat menumbuhkan dalam dua dasawarsa terakhir. 

Tanda seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik menurut Irwin G (1999) ditunjukkan dengan adanya faktor-faktor penting yaitu sifat egois yang sangat tinggi, terus mencari perhatian kepada orang lain, kurangnya kepedulian dan lemahnya harga diri. Dituliskan juga dalam Jurnal Al-Irsyad; Jurnal Bimbingan Konseling bahwa orang yang mengalami kecondongan nasrsistik akan mengalami kegelisahan, dimana mereka berupaya memberikan citra diri yang lebih baik untuk terlihat istimewa dan selalu berkeinginan orang lain memandangnya dengan kekaguman. 

Penanganan dalam gangguan kepribadian Narsistik Personality Disorder adalah dengan self control yang menjadikan sebuah upaya dari salah satu proses untuk meminimalisir kecondongan narsistik dalam diri seseorang. Dimana self control atau kontrol diri merupakan kebiasaan seseorang dalam menata, mengarahkan, dan mengendalikan setiap tindakan atau perilaku ke arah yang positif. Mungkin dalam tulisan lain banyak ditemukan upaya penanganan dalam kecenderungan narsistik agar tidak meningkat dengan berjalannya waktu.


Sekian Terima kasih, Semoga bermanfaat..


Referensi:

Wardani, Silvia Yula, Rischa Pramudia Trisnani. 2022. "Efektivitas Konseling Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) untuk Mereduksi Narcissistic Personality Disorder". INDONESIAN JOURNAL OF EDUCATIONAL COUNSELING, Vol. 6, No. 2, 96-97.

Muliani, Nurintan. 2021. "Pencegahan Kecenderungan Narsistik Melalui Kontrol Diri". AL-ISRYAD: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Vol. 3, No.2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memandang Konflik dalam Konsep Segitiga Johan Galtung

Perempuan Hari Ini: Kartini Versi Gen Z

Perempuan dan Value: Menemukan, Menjaga, dan Merayakan Nilai Diri